Yuan Shih Kai Memperoleh Jabatan Sebagai Presiden Melalui Sebuah Pemberontakan - Indonexa

Search Suggest

Yuan Shih Kai Memperoleh Jabatan Sebagai Presiden Melalui Sebuah Pemberontakan

Yuan Shih Kai: Pemberontakan dan Pemperolehan Jabatan sebagai Presiden

Yuan Shih Kai adalah seorang tokoh penting dalam sejarah modern Tiongkok yang memainkan peran sentral dalam transisi negara dari kekaisaran menuju republik. Salah satu momen penting dalam karir politiknya adalah ketika ia memperoleh jabatan sebagai presiden melalui sebuah pemberontakan yang kontroversial. Dalam artikel ini, kita akan membahas tentang bagaimana Yuan Shih Kai berhasil meraih kekuasaan melalui pemberontakan tersebut.

Setelah jatuhnya dinasti Qing pada tahun 1911, Tiongkok beralih dari kekaisaran menjadi republik. Pemerintahan sementara dibentuk dengan Sun Yat Sen sebagai presiden, tetapi stabilitas politik yang diharapkan sulit tercapai. Dalam situasi ini, Yuan Shih Kai, seorang jenderal yang berpengaruh dan mantan pejabat kekaisaran, melihat peluang untuk mendapatkan kekuasaan.

Pada tahun 1912, Yuan Shih Kai ditunjuk sebagai Perdana Menteri oleh pemerintahan sementara. Namun, ia memiliki ambisi yang lebih besar untuk menjadi presiden dan memusatkan kekuasaan di tangan sendiri. Untuk mencapai tujuan ini, Yuan Shih Kai mulai menjalin aliansi dengan militer yang setia padanya dan mengatur sebuah pemberontakan.

Pada tanggal 12 Februari 1913, Yuan Shih Kai melancarkan pemberontakan yang dikenal sebagai ‘Pemberontakan Yinchuan Guomin’ di kota Wuchang. Pemberontakan ini berhasil menggulingkan pemerintahan sementara dan menyingkirkan Sun Yat Sen dari jabatannya sebagai presiden. Yuan Shih Kai kemudian memproklamirkan dirinya sebagai presiden baru dan mengonsolidasikan kekuasaannya.

Namun, pemperolehan jabatan presiden Yuan Shih Kai melalui pemberontakan ini sangat kontroversial. Banyak yang menuduhnya menggunakan kekuatan militer untuk merebut kekuasaan dengan cara yang tidak demokratis. Pemberontakan tersebut juga mengakibatkan konflik dan pertumpahan darah di beberapa wilayah Tiongkok.

Kekuasaan Yuan Shih Kai sebagai presiden tidak berlangsung lama. Dia menghadapi tekanan dari berbagai pihak, termasuk kaum revolusioner, yang menuntut demokrasi dan otonomi regional yang lebih besar. Yuan Shih Kai juga menghadapi perlawanan dari kelompok-kelompok warlord dan pemberontak regional yang menentang kekuasaannya.

Pada tahun 1915, Yuan Shih Kai mencoba mengubah sistem politik menjadi monarki dan menobatkan dirinya sebagai kaisar. Namun, rencananya ini menimbulkan protes massal dan menghadapi penolakan luas. Akhirnya, Yuan Shih Kai terpaksa mundur dari rencananya dan meninggal pada tahun 1916.

Meskipun cara Yuan Shih Kai memperoleh jabatan presiden melalui pemberontakan sangat kontroversial, perannya dalam sejarah Tiongkok tidak dapat disangkal. Dia adalah salah satu tokoh yang berperan dalam mempengaruhi transisi dari kekaisaran menuju republik. Pemberontakan yang dilakukannya, meskipun kontroversial, mencerminkan ketegangan politik dan kekacauan yang terjadi pada saat itu.

Dalam Yuan Shih Kai berhasil memperoleh jabatan sebagai presiden Tiongkok melalui pemberontakan yang ia pimpin. Meskipun kontroversial, pemberontakan tersebut memainkan peran penting dalam politik Tiongkok pada awal abad ke-20. Peristiwa ini mencerminkan dinamika politik dan perjuangan kekuasaan yang terjadi dalam peralihan dari kekaisaran menuju republik di Tiongkok.